Entri Populer

Jumat, 17 Agustus 2012

Sepucuk Surat

Sepucuk surat itu baru saja diantar oleh Pak Pos. “Kring-kring.....Kring-kring....”, bunyi bel Pak Pos. Terimakasih, Pak Pos..... Akulah yang menerimanya karena Rafa, adik laki-lakiku masih tidur. Sedangkan, kedua orangtuaku sedang dinas ke luar negeri. Bik Min lagi ke pasar. Kulihat pada amplopnya. Perangko yang bertuliskan “Rp. 7.000,00” dengan gambar burung merak berwarna putih tertempel di pojok kanan atas amplop itu. Lalu, kulihat di bawahnya ada tulisan :    Kepada Shifa
                          Jl. Bondowoso nomor 21
                          Malang, Jawa Timur
                         
Lalu, kulihat di sisi lainnya ada tulisan:
                          Always smile,
                          EVERYWHERE,
                          EVERYTIME,
                          ANYWHERE,
                          ANYTIME,
                          EVERYBODY or
                          ANYBODY!
Hmm.... Shifa itu aku.... Aku tersenyum sendiri. Unik. Hmmm..... Siapa ya, yang mengirimku surat ini????? *0* Ini kali pertama aku mendapat surat. Segera aku masuk & duduk di sofa di ruang keluarga. “Fatigon Spirit!”, kata iklan yang sedang tayang. Kuambil remote dan kumatikan. Hemat listrik. Kubuka amplop itu. Ada 2 lembar surat. Ketika kubuka lembar pertama....syuut....selembar foto hitam putih jatuh. Kuambil foto itu. Wuaw! Cantiknya! Lady in Lolita!!!! Wait!!!! Dia..... seperti pernah kulihat sebelumnya SEKALIGUS asing..... Hmmmm....... Siapa ya???? Lalu kulihat lagi motifnya.... Indah! Setelah itu kubaca suratnya.
Isinya:
Kamis, 5 Januari 2012
          Untuk Shifa Mitiara
          Di Jl. Bondowoso 21 Mlg.
Hai, Shifa! Mungkin kamu bertanya-tanya, siapakah pengirim suratmu ini? Jawaban itu dapat kau ketahui sa’at surat keduaku nanti. Untuk sementara, kau dapat memanggilku “Sunny-chan” atau “Sunny”. Tapi, Sunny bukanlah nama asliku. Aku adalah orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Yaph. Aku adalah imigran Indonesia di Jepang. Tepatnya.... di prefektur Tokyo. Aku sangat berterimakasih padau atas bantuan yang kausumbangkan! Ya, aku adalah salah seorang dari korban gempa di Jepang itu. Untung seluruh keluargaku selamat!
Lalu..... Suatu hari yang cerah, di posko tenda, “BANTUAN! BANTUAN!!!!!”, kata Taro, sahabatku (dengan bahasa Jepang tentunya). Taro adalah adik kelasku, lebih muda 2 tahun dariku. Lalu, kulirik ke kantong tidur. Hmmm.... Semuanya masih tidur. Jadi, kuputuskan akulah yang pergi untuk mengambil barang-barang bantuan tersebut. Kusibak “pintu” tenda yang berwarna biru. Setelah memakai sandal, aku berlari-lari kecil menuju tenda yang cukup besar. “Sensei!”, teriakku. Sensei adalah bahasa Jepang dari guru. Iwai-Sensei, guru kelasku. Dialah guru yang juga imigran Indonesia. Iwai-Sensei gondrong dan merupakan blasteran Indonesia-Jepang. “Sunny-chan! Ini bala.... eh... barang untuk keluargamu!”, kata Iwai-Sensei. Ia menyerahkan sebuah kardus dengan tulisan besar, “Mitiara”.
Mitiara adalah nama belakangku. Sampai di dalam tenda, yang lain masih tertidur pulas. Kubuka kardus itu..... Sreek!!!! Sreeekkk!!!! Brett!!! Dan...... UWA!!!! Ada fotomu memakai lolita, Shifa! Dan aku baru sadar kalau aku telah menemukan saudara kembarku! Oh! Senangnya hatiku!!!! Lalu.... Ketika kuberitahu Ibuku bahwa aku telah menemukan Kakak kembarku yang telah hilang. Ya, sebenarnya, kita berdua adalah saudara kembar yang sejak bayi terpisah.
“Sebenarnya, Ibu Shifa, yang ada di dalam foto itu adalah Ibu kandungmu, Nak.... Dulu, Ibu divonis sebuah penyakit yang tak memungkinkan untuk memiliki keturunan. Akhirnya, Ibu meminta tolong ke Ibu kandungmu untuk mengadopsimu dan beliau tak keberatan sama sekali. Kemudian, keitka umurmu setahun, kita bertiga telah tinggal di Jepang. Lalu, Ibu melakukan check-up rutin untuk pertama kalinya di Jepang. Dan..... dokter di Jepang menyatakan, dokter yang memeriksa Ibu di Indonesia itu salah. Dan akhirnya, adikmu, Kevin, hadir di dunia ini.”, jelas Ibuku sambil agak terisak.
Jadi, akhirnya kuputuskan untuk memberi fotoku dengan lolita. Ya.... Bajunya dan motifnya sama persis..... Hanya.... Hanya.... Warnanya saja yang terbalik. Kakak mungkin hanya memberi alamat kakak dan perangko. Mungkin kakak ingin agar aku mengirim surat kepada Kakak. Tunggu saja. Pada surat kedua, Kakak akan mengetahui namaku. Surat kedua adalah surat tersingkat sekaligus surat terakhir dariku untuk Kakak.
Mataku buram. Serrr....... Air mata menetes mengaliri kedua pipiku. Air mata hangat akan kasih sayangku kepada adikku. Walaupun belum pernah bertemu, rindu rasanya. Hiks....Hiks....
Lalu....”Ting-tong!!!!”, suara bel terpencet. Siapa, ya? Hmm.... Pak Pos lagi. “Non.... Wah... Ini surat baru datang. Kalau sudah datang dari tadi, akan Bapak sertakan dengan surat yang tadi.”, kata Pak Pos yang tadi. Ya, sama. Lalu, Pak Pos menyodorkan sepucuk surat. Kuterima surat itu. Sekarang perangkonya bergambar anime “Letter Bee Reverse” dengan karakter Sunny. Aku sekarang mengerti. Sunny suka dengan karakter Sunny dari Letter Bee Reverse! Oh.... Adikku.... “Terimakasih, Pak. Ini!”, kusodorkan sebuah permen. “Wah, makasih, ya, Non!”, jawab Pak Pos seraya mengambil permen tersebut dengan senyum. Aku balas senyum. Setelah Pak Pos pergi, aku duduk di sofa (lagi) dan membuka surat itu.
Isinya:
Jum’at, 6 Januari 2012
          Untuk Kakak
          Dari Sunny :)
Kak, aku telah berunding dengan keluargaku dan mereka sepakat mengantarku pulang. Aku memakai kilat khusus. Jemputlah aku pada hari Minggu, 8 Januari 2012 pukul 10.00 W.I.B di Bandara Abdulrahman Saleh. Kutunggu dengan pesawat Batavia. Ma’af, aku tak bisa memberitahu namaku. Ibu kita telah tahu bahwa aku akan pulang. Kakak akan kutunggu.
:)Sunny :)

Hari ini! Oh! Sekarang jam 9! Lalu, segera kutinggalkan memo dan sarapan untuk Rafa. Memo untuk Bik Min juga. Lalu kututup pintu rumah dan membawa kunci cadangan khusus untukku. Aku mengambil....ehm.... mengendarai sepeda untuk dua orang. Lalu secepat angin (biasanya secepat kilat, namun aku tak bisa secepat kilat) aku pergi ke Bandara. Sesampainya di sana, kupakirkan sepedaku di dekat sebuah motor di tempat parkir khusus motor. Lalu aku masuk. Tepat!
“Kak!”, panggil Sunny. Dia memakai lolita. Aku tersenyum. Dia hanya membawa tas ransel saja. Lalu aku segera berlari dan memeluknya erat-erat. Lalu dia kubonceng. “Sun...”, kataku.
“Ya?”, jawabnya.
“Siapa....nama aslimu?”
“Shita Mitiara. Shita ‘Sunny’ Mitiara.”
“Kau sering dipanggil Sunny di sekolah dan lingkunganmu, ya?”
“Ya.”
“Kau memakai baju lolita yang ada di dalam foto.”
“Ya. Kakak juga.”
“Hahahaha.... Ya.... Aku juga. Semoga nanti kau akan terbiasa di keluarga!”
“Seharusnya....”
“Ya.... Rafa pasti senang....”
“Rafa yang ganteng.... Hahahaha...”
“Weks! Tidak ganteng sama sekali! Hahahahaa...”, kataku sambil menoleh ke belakang. Ya. Mirip! MIRIP SEKALI!
Betul kataku. Ia langsung terbiasa dengan keluarga. Semua menerimanya dengan tangan terbuka. Sekamar, sebangku di kelas, pulang pergi selalu bersama—aku, Sunny, eh, Shita, dan Rafa—setiap hari. Jadi, inilah hikmah yang kuambil dari korespondensasi dan menyumbang bantuan!